Selasa, 29 November 2011

Review Struktur dan Perkembangan Hewan

A.    STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN
1.    Pengertian SPH
Mata kuliah Struktur dan Perkembangan Hewan memiliki 2 kata kunci, yakni struktur dan perkembangan yang dipelajari khusus pada hewan.
Struktur dalam hal ini, memiliki pengertian tentang perihal anatomi tubuh hewan. (anatome; ana=atas, temnein=memotong), dan pembelajaran anatomi ini dapat dilakukan dengan cara pembedahan/ pengirisan.
Pembedahan yang dilakukan ini dilakukan dengan tujuan mengetahui organ apa saja yang menunjang kehidupan hewan, masing-masing fungsi organ dan bagaimana hubungannya dengan organ yang ada didekatnya, apakah memiliki fungsi yang sama untuk menunjang satu sistem metabolisme.
Pengamatan anatomi hewan ini sendiri memiliki dua cara, yakni secara makroskopis atau dengan mata telanjang untuk melihat strukur makroanatomi dan secara mikroskopis dengan bantuan mikroskop (cahaya, elektron) untuk melihat struktur mikroanatomi.
Perkembangan sendiri meliputi adanya proses perubahan pada struktur, organisasi, masa, dan fungsi dalam tubuh hewan. Sebagai contoh adanya perkembangan dari suatu zigot hewan menjadi fetus dimana terjadi perubahan pada berbagai aspek yang menyokong kehidupannya.

2.    Pola Badan dan Simetri
Terdapat 3 sumbu utama:   
a.    Axis longitudinalis (memanjang)
b.    Axis dorsoventralis (dari dorsal= punggung; ke ventral=perut)
c.    Axis transversalis (tegak lurus longitudinal)

Terdapat 3 bidang yang ditarik berdasarkan axis pada ikan:
a.    Bidang mediana
Bidang dibentuk melalui axis dorsoventralis dan axis longitudinal.
b.    Bidang frontal
Bidang dibentuk melalui axis transversalis dan axis longitudinalis.
c.    Bidang transversal
Bidang dibentuk melalui axis dorsoventralis dan axis transversalis


Terdapat 6 jenis simetri:
a.    Asimetri
Tidak terdapat persamaan pada antar sisi tubuh maupun pada organ tubuh.
Bila dipotong menjadi 2, antar sisi yang terpotong bentuknya berbeda.
b.    Simetri
    Bilateral: terbagi menjadi 2 sama persis jika dipotong.
    Radial   : lewat axis medial.(misal: hydra)
    Spherinx: hewan tubuh bult, jika dibelah dari berbagai sis, akan sama saja.(misal: protozoa)
    Biradial : kombinasi radia dan bilateral.(misal: asteroidea) 
c.    Homoxoni
Mempunyasi sumbu sama sehingga di belah dari sudut manapun akana menghasilkan hasil belahan yang sama. (misal: volvox)
d.    Heteroxoni
Tidak sama hasil belahan jika dibelah berdasarkan sumbu tegak, maupun samping. (misal:vertebrata)
e.    Monoxoni
Hanya memiliki satu sumbu di bidang tertentu yang akan menghasilkan suatu bentuk yang simetri antara satu hasil belaha dengan hasil belahan lain. Sebagai contoh, ikan hanya memiliki satu sumbu yang akan menghasilkan potongan tubuh yang sama antar sisinya, walaupun untuk membelah ikan tidak hanya dapat lewat satu sumbu saja.
f.    Segmentasi
Ruas-ruas tulang belakang pada hewan tersebut terus berulang-ulang membentuk struktur yang sama.

3.    Organisasi Tubuh Hewan

sel-jaringan-organ-sistem-organisme

4.    Jaringan Dasar
Jaringan dasar (parenkim) akan terdeferensiasi menjadi:
    Jaringan Epithelium
Merupakan jaringan penutupi atau melapisi permukaan tubuh organisme, baik lapisan luar  atau lapisan dalam  (endotelium).

Fungsi :
-    absorpsi, sebagai alat penyerapan, ditemukan pada usus halus
-    sekresi, sebagai alat penghasil zat atau cairan yang bermanfaat, ditemukan
pada kelenjar buntu
-    transport, sebagai alat pengangkutan, ditemukan pada pembuluh darah dan tubula ginjal
-    ekskresi, sebagai alat pembuangan sisa metabolisame à ditemukan pada kelenjar keringat
-    proteksi, sebagai alat perlindungan, ditemukan pada kulit
-    sensori, sebagai alat penerima rangsang, ditemukan pada alat indera 

Berdasarkan fungsinya epitelium dibedakan menjadi 3, yaitu epitelium proteksi, epitelium kelenjar dan epitelium sensori.

Kelenjar ada 2 macam, yauti :
a.   kelenjar eksokrin : kelenjar yang hasil sekresinya dialirkan melalui saluran. Misal kelenjar keringat dan kelenjar minyak.
b.  kelenjar endokrin : kelenjar yang hasil sekresinya tidak dialirkan melalui saluran tetapi langsung ke dalam darah. Misal kelenjar hipofisis, adrenal dan hormon
Berdasarkan bentuk dan susunan sel, epitelium dibedakan :
-    Epitelium pipih selapis : terdiri atas satu lapis sel berbetuk pipih. Pada peritoneum, pembuluh darah, pembeluh limphe, alveolus, kapsula glomereus.
-    Epitelium pipih berlapis banyak : terdiri atas banyak lapis sel dan lapisan terluarnya berbentuk pipih. Pada epidermis, rongga mulut, oesofagus, vagina dan rongga hidung.
-    Epitelium kubus selapis :  terdiri atas satu lapis sel berbentuk kubus. Pada nefron, ovarium, lensa mata.
-    Epitelium kubus berlapis banyak : terdiri banyak lapis sel dan lapisan terluar selnya berbentuk kubus. Pada saluran kelenjar minyak dan keringat.
-    Epitelium silindris selapis : terdiri atas satu lapis sel berbentuk silindris. Pada lambung, usus, rahim.
-    Epitelium silindris berlapis banyak :  terdiri atas banyak lapis sel dan lapisan terluar selnya berbentuk silindris. Pada uretra, faring, laring, saluran kelenjar susu, saluran kelenjar ludah.
-    Epitelium silindris berlapis banyak semu (silindris bersilia) : terdiri atas banyak lapis namun tidak terlihat dengan jelas dan lapisan terluar selnya berbentuk silindris bersilia. Pada bronkus, trakea, rongga hidung.
-    Epitelium transisional : epitel berlapis yang sel-selnya tidak dapat dapat digolongkan berdasarkan bentuknya, bila jaringannya mengembung bentuknya berubah. Pada kandung kemih, uretra.




    Jaringan Pengikat (ikat)
a.    Jaringan lemak (serabut longgar)
Bentuk longgar, tersusun dari sel lemak, berbentuk poligonal/bulat, dinding sel tipis, sel kaya rongga sel yang berisi tetes minyak.
Terdapat di bawah lapisan bawah kulit, sekitrar ginjal, bantalan/lapisan sendi, sumsum tulang panjang.
Fungsi:  untuk menyimpan lemak, cadangan makanan, bantalan, proteksi dan isolasi terhadap panas.
b.    Jaringan pengikat longgar (gembur)
Susunan sel panjang, matriks mengandung serabut kolagen dan elastis.
Fungsi:  membungkus organ-organ, pembuluh darah dan syaraf.
c.    Jaringan pengikat serabut padat (liat)
Disebut jaringa ikat serabut putih karena terbuat dari kolagen yang berwarna putih, bersifat fleksibel tapi tidak elastis.
Terdapat pada fasia, ligamen, selaput urat dan tendon.
Fungsi: menghubungkan berbagai organ tubuh, misal tulang dengan tulang, otot pada tulang (tendon).
d.    Jaringan tulang
- Jaringan tulang sejati (osteon)
Terdiri atas sel tulang (osteosit) yang tersimpan dalam matriks yang terdiri atas zat perekat kolagen dan endapan kalsium karbonat (CaCo3) dan kalsium fosphat (Ca3(PO4)2). Proses meningkatnya kadar kapur sehingga tulang menjadi keras disebut kalsifikasi/ osifikasi. Sel pembentuk jaringan tulang disebut osteoblast. Setiap satuan sel tulang mengelilingi pembuluh darah, limpha dan syaraf membentuk sistem havers.

    Berdasarkan susunan matriks jaringan tulang dibedakan :
- jaringan tulang spon (karang), bila matriknya berongga
- jaringan tulang keras (kompak), bila matriksnya rapat atau keras

     Fungsi tulang :
- penyusun rangka
- tempat melekatnya otot
- melindungi bagian tubuh yang lemah
- sebagai alat gerak pasif
- tempat pembentukan sel darah merah

    Jaringan tulang rawan (kartilago)
Terdiri atas sel tulang rawan dan matriks mengandung zat kondrin, bersifat elastis. Pada anak-anak kartilago berasal dari jaringan embrional (mesenkim), sedang pada orang dewasa berasal dari dari selaput tulang rawan (perikondrium) yang banyak mengandung konfroblast (pembentuk sel tulang rawan).
    Ada 3 macam kartilago :
- Tulang rawan hialin (cartilago hialin), matriksnya bening atau transparan, jernih, mengkilap, kebiruan.
   Terdapat di permukaan sendi, trakea, bronkia. 
- Tulang rawan fibrosa (berserabut) atau cartilago fibrosa, matriksnya berwarna gelap dan keruh.
 Terdapat pada cakram antar ruas tulang belakang, perlekatan ligamen tertentu pada tulang dan persendian tulang pinggang.
- Tulang rawan elastis (cartilago elastin), matriksnya berwarna keruh kekuningan.
 Terdapat pada daun telinga, epiglotis, pembuluih eustachius, laring.

e.   Jaringan darah
Darah beredar dari jantung dalam pembuluh darah nadi, vena dan kapiler ke seluruh tubuh lalu kembali ke jantung.
Darah tersusun atas plasma darah (cairan darah) yang mengandung senyawa organik, senyawa anorganik, serum , air  dan sel-sel darah yang terdiri atas :
- Erytrosit (sel darah merah)
- Leucosit (sel darah putih)
- Trombosit (keping darah)

    Fungsi darah :
-mengangkut  sari makanan, hormon, gas per-nafasan dan sisa    metabolisme
- mencegah infeksi kuman penyakit
- menutup luka
- menjaga stabilitas suhu tubuh           
f.   Jaringan limphe (getah bening)
Adalah bagian dari darah yang keluar dari pembuluh darah.  Limphe merupakan cairan yang terbentuk dari air, glukosa, lemak dan garam. Komponen selulernya berupa limphosit dan granulosit.
Fungsi mengangkut cairan jaringan, protein, lemak, garam mineral dan zat lain dari jaringan ke sistem pembuluh darah.


    Jaringan Otot
Merupakan jaringan yang tersusun atas sel otot yang bertugas menggerakan berbagai bagian tubuh, karena memiliki kemampuan berkonteraksi. Kemampuan kontraksi disebabkan adanya protein otot yang disebut aktomiosin pada setiap miofibril.
Macam-macam otot :

a.   Otot polos
- sel polos tidak bergarin-garis
- inti sel berjumlah satu dan terletak di tengah
- kerjanya tidak dipengaruhi kesadaran (otak)
- reaksi terhadap rangsang lambat
- bentuk sel seperti kumparan
- kerja teratur, lambat dan tahan lama
- fungsi menggerakan alat-alat dalam

b.  Otot lurik/ rangka/ seran lintang
- sel berserabut dan bergaris-garis
- inti sel berjumlah banyak dan terletak di tepi
- kerjanya dipengaruhi kesadaran
- reaksi terhadap rangasang cepat
- bentuk sel silindris
- kerja tidak teratur, cepat dan tidak tahan lama
- fungsi menggerakan rangka

c.   Otot jantung
- sel berserabut, bercabang dan bergaris-garis
- inti sel berjumlah satu dan terletak di tengah
- kerja tidak  dipengaruhi kehendak kesadaran
- reaksi terhadap rangsang lambat
- bentuk sel silindris bercabang-cabang
- kerja teratur dan tahan lama
- fungsi kontraksi otot jantung

Berdasar syaraf yang mempengaruhinya, otot lurik termasuk otot sadar sehingga disebut otot volunter, sedang otot polos dan otot jantung termasuk otot tak sadar sehingga disebut otot involunter. Pada otot jantung hubungan antara cabang yang satu dengan yang lain di sebut sinsitium.

    Jaringan Syaraf
Jaringan berfungsi untuk mengatur dan mengkoordinasi segala aktivitas tubuh. Jaringan ini dibentuk oleh sel-sel syaraf yang disebut neuron.
Neuron dibedakan atas : 
- dendrit : penjuluran keluar dari badan sel yang berfungsi membawa rangsangan ke badan sel.
- badan sel : bagian sel syaraf yang mengandung inti dengan nukleolus di tangahnya. Badan sel syaraf terletak di pusat syaraf dan ganglion (kumpulan badan sel syaraf). Ganglion terletak di tempat-tempat tertentu seperti di kiri kanan sumsum tulang belakang.
 -  neurit (akson) : penjuluran panjang dari badan sel yang berfungsi membawa rangsangan dari badan sel ke neuron lain.
  
    Neurit memiliki selubung, yaitu :
- selubung mielin : selubung terdalam yang langsung membungkus neurit dan terdiri atas fosfolipid. Selubung ini berfungsi sebagai isolator dan juga berperan sebagai nutritif terhadap neurit.
- selubung neurilema (schwan) : terdiri dari sel schwan yang menghasilkan mielin. Neurilema berfungsi dalam regenerasi neurit dan dendrit yang rusak.

Antara neuron satu dengan neuron yang lain saling berhubungan. Tempat hubungannya disebut sinapsis.

B.    INTEGUMENTUM
1.    Struktur Kulit
    Fungsi kulit:
a.    Proteksi
b.    Penerima rangsang
c.    Alat bantu pernapasan
d.    Pengatur suhu tubuh
e.    Ekskresi (keringat)
f.    Penyimpan cadangan makanan
g.    Sekresi
h.    Lokomosi
Kulit vertebrata dibagi menjadi 2, yakni epidermis (kulit luar) dan dermis (kulit dalam, corium). Pada keduanya, terdapat variasi struktur berdasarkan spesiesnya:
a.    Ada tidaknya tulang dermis
b.    Banyak kelenjar dari jenis yang hidup di air
c.    Spesialisasi lapisan corneum pada hewan darat.
EPIDERMIS
Pembagian lapisan epidermis:
a.    Lapisan germinativum, berbatasan dengan lapisan dermis
b.    Lapisan transisional, terletak di tengah
c.    Lapisan corneum, terletak di paling luat



Mekanisme pembentukan epidermis:
Lapisan germinativum adalah lapisan epidermis yang terletak paling dalam, paling dekat dengan dermis. Lapisan ini adalah lapisan yang aktif membelah. Pembelahannya selalu membentuk sel-sel kulit baru yang makin lama akan mendesak sel-sel kulit yang sudah ada sebelumnya. Karena terus terkadi desakan ke superfisial, sel-selnya pun menjadi pipih dan menuju bagian tengah epidermis menjadi bagian dari lapisan transisional epidermis. Lapisan germinativum yang terus membelah mendesak bagian transisional makin menjauh dan menuju permukaan kulit. Sesampainya di permukaan kulit ini, sel-sel kulit mati karena kapiler darah tidak sampai ke permukaan kulit sehingga tidak ada suplai bahan penghasil energi. Lapisan sel-sel mati inilah yang membentuk lapisan corneum. Proses selanjutnya adalah menjadi keratin, yakni protein yang tak larut dalam air. Dan tahapan ini terus menerus berulang, diawali dari lapisan germinativum dan berakhir di lapisan corneum.
Pada epidermis vertebrata menghasilkan mukus yang digunakan untuk membasahi kulit

SKEMA MEKANISME


DERMIS
Dermis komponen utamanya berasal dari jaringan ikat kolagen, terdiri dari:
a.    Pembuluh darah
b.    Jaringan lemak
Komponen lain:
a.    pembuluh darah,
b.    syaraf,
c.    sel pigmen,
d.    kelenjar multiselular,
e.    basis rambut atau bulu dan otot erektor

Dermis, pada ikan ostracoderm membentuk tulang dermal yang berasal dari osifikasi intramembran yang menghasilkan lempeng tulang.
Pada vertebrata akuatik dan ikan, perkembangan dari serabut-serabut kolagen adalah membentuk stratum compactum yang  bersifat kompak dan keras.
Pada vertebrata terestrial (darat), stratum compactum  kurang jelas dikarenakan adanya lokomosi  yaitu perjalanan aktif dari satu tempat ke tempat yang lain. Kita ketahui bahwa vertebrata yang hidup terestrial semuanya adalah vertebrata aktif, bukan sessile (menambat), sehingga apabila pada vertebrata terestrial terdapat stratum compactum yang bersifat keras dan kaku/ kompak, otomatis ruang gerak dan gerakan yang dihasilkan oleh vertebrata darat ini akan sangat terkurangi, apalagi dengan kerapatan medium udara yang renggang dan adanya gravitasi yang cukup besar.. Berbeda dengan vertebrata akuatik yang hidup di air, yang memiliki kerapatan medium jauh lebih rapat dengan kerapatan udara di darat. 

ONTOGENI KULIT
Ontogeni adalah perkembangan embrionik suatu organisme.
Berdasarkan perkembangan embrionik pada kulit vertebrata terdapat perkembangan:
a.    Ektoderm, yaitu lapisan selapis pada kulit vertebrata yang terluar dari tiga  lapisan nutfah primer pada embrio hewan, yang akan menjadi lapisan terluar, dan  bagi beberapa filum tertentu akan menjadi sistem saraf, telinga bagian dalam dan lensa mata.
Ontogeni yang terjadi pada ektoderm ini berawal dari proses proliferasi yang membuat terjadinya perlapisan epidermis, membentuk lapisan paling dalam/ dasar, yaitu stratum basale atau stratum germinativum  yang aktif mengalami pembelahan dan pada kahirnya membentuk peridermis, yang juga terdapat pada tumbuhan digunakan sebagai pengganti epidermis untuk pertumbuhan sekunder.
b.    Dermis, yaitu lapisan yang berasal dari dermatom, deferensiasi dari epimer (bagian pada otot),. Dermatom ini terletak di daerah dorsolateral, yaitu sebelah dalam ektoderm.
Dermis ini kemudian terdiferensiasi menjadi jaringan ikat, yakni jaringan kolagen yang pada perkembangannya menjadi stratum compactum.
Diantara dermis dan epidermis terdapat kromatofor yang bersal dari crista neuralis. Pada katak misalnya, kromatofor ini berguna untuk zat warna kulit (pigmentasi), menghasilkan warna kuning (xantofor), hijau-biru (guanofor), coklat-hitam (melanofor), dan kuning yang berasal dari lemak (lipofor).
Diantara dermis dan otot dibawahnya terdapat hypodermis.
c.    Invaginasi permukaan epidermis membentuk kelenjar kulit:
•    Kelenjar eksokrin: kelenjar yang memiliki saluran keluar.
•    Kelenjar endokrin: kelenjar yang tak punya salurann keluar. Hasil sekresinya langsung bercampur dengan darah.
d.    Interaksi dermis dan epidermis menstimulasi pembentukan : gigi, bulu, rambut, sisik.
•    Pada  burung, interaksi secara spesifik pada epidermis dan dermisnya membentuk bulu.
•    Pada mamalia, interaksinya membentuk rambut dan adanya mammals gland.
•    Pada ikan, interaksi epdermis dan dermisnya membentuk sisik yang dibedakan menjadi: ganoid, placoid, sicloid-stenoid, cosmoid.
•    Dan interaksi pada epidermis dan dermis yang terjadi pada semua vertebrata dan bersifat sama adalah pembentukan gigi.



SPESIFIKASI KULIT VERTEBRATA
a.    Ikan
•    Epidermisnya memiliki banyak kelenjar.
•    Dermisnya bersisik dengan berbagai tipe seperti: ganoid, placoid, sicloid-stenoid, cosmoid.
•    Tidak memiliki stratum corneum, yang selalu mengelupas.
•    Mukus yang dihasilkan oleh epidermisnya digunakan sebagai proteksi terhadap bakteri dan membantu aliran air melewati permukaan tubuh.
b.    Katak
•    Dermisnya tak puya sisik.
•    Epidermisnya hanya punya sedikit kelenjar. Hal ini berkaitan dengan fungsi kulit katak yang digunakan sebagai alat bantu respirasi (pulmo kutaneus).
•    Ada sedikit stratum corneum, sebagai salah satu adaptasi semiterestrial.
•    Mukus yang dihasilkan oleh epidermisnya untuk proteksi & menjaga kulit agar tidak kering (semiterestrial).
c.    Reptil
•    Lapisan corneum tebal (adaptasi kehidupan terestrial), untuk mengurangi kehilangan air.
•    Kelenjarnya sedikit, karena adanya pergerakan di darat.
d.    Aves
•    Kulitnya tipis, tidak melekat erat dengan otot di sebelah dalamnya
•    Permukaan tubuh tertutup bulu
•    Kelenjar kulit sedikit, hanya pada ekor, yaitu kelenjar minyak (glandulla uropygialis).
e.    Mammal
•    Epidermis memiliki lapisan corneum & kelenjar multiseluler
•    Lapisan corneum mengalami modifikasi menjadi: sisik, rambut, cakar, kuku, tanduk

KELENJAR KULIT
1.    Kelenjar susu (glandula mammae)
2.    Kelenjar keringat (glandula sudurifera)
3.    Kelenjar minyak (glandula subassea)
•    Lapisan dermis lebih tebal daripada epidermis
•    Pada dermis mamal tidak terjadi penulangan, kecuali pada trenggiling, mamal dengan sisik dermis
•    Dalam dermis banyak serabut kolagen, bila disamak dengan asam tannin membuat kulit jadi liat (:”leather”)
•    Disebelah dalam kulit ada timbunan lemak (misal: ikan paus) sebagai adaptasi kehidupan di laut yang dingin


2.    DERIVAT KULIT
a.    Kelenjar mukus
b.    Kelenjar granuler
•    Dominan pada kodok & reptil
•    Sedikit pada ikan, jarang pada amfibi akuatik
•    Sitoplasma granuler
•    Sekret beracun à perlindungan
c.    Sisik
•    Reptil: merupakan kornifikasi stratum corneum yang berasal dari epidermis.
•    Ikan:  osifikasi pada bagahn tukang yang berasal dari dermis.
d.    Bulu
e.    Rambut
f.    Tanduk
g.    Cakar, kuku, teracak
3.    KELENJAR KULIT
a.    Pigmentasi
b.    Kelenjar keringat
c.    Kelenjar minyak
d.    Kelenjar temporal/pipi


C.    SYSTEMA MUSCULARE
Berdasarkan letak:
a.    Otot visceral (otot pada organ dalam)
b.    Otot somatik (otot rangka):
    Axial:
1.    Kepala
2.    Badan
    Apendikular:
1.    Eksentrik
2.    Intrinsik
Berdasarkan fungsi:
a.    Fleksor (menekuk) >< ekstensor (meluruskan)
b.    Adductor (menuju sumbu badan >< abductor (menjauhi sumbu badan)
c.    Pronator (membalik ke bawah) >< supinator (membalik ke atas)
d.    Protactor (mendorong ke luar) >< retractor (menarik ke dalam)
e.    Levator (mengangkat) >< depressor (menurunkan)
f.    Sphincter (mengecilkan rongga) >< dilator (membesarkan rongga)
g.    Rotator (memutar pada axis)
h.    Constrictor (menekan bagian dalam)

Berdasarkan struktur:
a.    Otot seran lintang/skelet
b.    Otot polos/ non skelet
c.    Otot jantung
Berdasarkan bentuk:
a.    Pinnate
b.    Konvergen
c.    Sirkuler
d.    Paralel
Berdasarkan kontrol syaraf:
a.    Voluntary (otot sadar)
b.    Involuntary (otot tak sadar)
Berdasarkan warna:
a.    Merah
b.    Putih
c.    Intermediat
FUNGSI OTOT
•    Alat gerak aktif (hampir semua gerakan tubuh merupakan aktivitas otot)
•    Kontraksi otot :
a.    menggerakkan tulang
b.    menyempitkan dan melebarkan saluran (ruangan) à terjadi gerakan (aliran) cairan
•   Mempengaruhi bentuk tubuh
•   melindungi beberapa alat dalam



ONTOGENI OTOT
Pada awal perkembangan, terdapat 3 lapisan:
a.    endoderm
b.    mesoderm
    epimer   : dorsolateral & segmentasi
perkembangan epimer:
    dermatom (bagian dorsolateral terletak langsung dibawah ectoderm)
    myotom (bagian dorsomedial)
 membentuk otot dinding tubuh
     sclerotom (bagian ventromedial)
       membentuk vertebra

    mesomer: kecil (ditengah), tidak segmental
    hypomer: ventrolateral, tidak segmental
c.    ectoderm

D.    SISTEM RANGKA
Pada vertebrata terdiri dari:
a.    Tulang keras
b.    Tulang rawan
c.    Tulang rawan dan tulang keras

FUNGSI RANGKA:
•    Penyokong  tubuh
•    Perlekatan otot-otot  è otot skelet
•    Pelindung bagian tubuh yang lunak
•    Memelihara bentuk tubuh
•    Alat gerak pasif
Rangka:
a.    Eksoskeleton. Berasal dari corium
b.    Endoskeleton. Berasal dari mesodermis
•    Rangka axial:
    Columna vertebralis (tulang belakang)
    Costa  (tulang rusuk)
    Sternum
    Cranium
•    Rangka apendikuler
    Cingulum pectorale (gelang bahu)
    Cinggulum pelvicale (gelang panggul)
    Extremitas craniale (tungkai depan)
    Extremitas caudale (tungkai belakang)
COLUMNA VERTEBRALIS:
–    Melindungi medulla spinalis
–    Tersusun dari deretan vertebrae
–    Dari basis cranium hingga ujung ekor
–    Memiliki variasi morfologi vertebra

•    Vertebra:
–    Centrum
–    Arcus
–    processus


    CENTRUM
•    Massa silindris
•    Terletak di ventral tubus neuralis
•    Antar centrum dihubungkan oleh discus intervertebralis
–    Discus intervertebralis disusun oleh jaringan cartilago fibrosa
–    Discus intervertebralis dapat melekat dibagian distal atau bagian cranial centrum sehingga menyebabkan permukaan centrum bervariasi (cembung, cekung, datar atau kombinasi)
Tipe-tipe centrum:
a.    Acoelous
b.    Amphicoelous
c.    Procoelous
d.    Opisthocoelous
e.    Heterocoelous

    ARCUS
Adalah sepasang bangun melengkung, di bagian dorsal centrum yaitu arcus neuralis yang bersatu di dorsal membentuk spina neuralis dengan di bagian ventral centrum yaitu arcus hemalis.
Arcus neuralis yang terletak pada dorsal centrum akan berderet sehingga membentuk saluran yang disebut canalis neuralis/vertebralis sebagai tempat medulla spinalis
    PROCESSUS
•    Merupakan tonjolan dari arcus maupun centrum
•    Fungsi:
–    Menambah ketegaran columna vertebralis
–    Mencegah pembengkokan berlebihan pada columna vertebralis
–    Tempat persendian costa
–    Tempat perlekatan otot
•    Jenis-jenis processus antara lain:
–    Zygapophysis
–    Parapophysis
–    Diapophysis
–    Basapophysis
–    Hypapophysis
COSTA
Pada ikan:
a.    Costa dorsalis
b.    Costa vertebralis
Pada tetrapoda:
a.    kepala bagian dorsal (tuberculum) bersendi pada diapophysis,
b.    kepala bagian ventral (capitulum) bersendi pada parapophysis
Pada amphibi:
tak ada costa, mereduksi karena tak berhubungan dengan sternum.
Pada reptil
a.    pada vertebra abdominalis
b.    pada vertebra caudalis
Pada ular:
Tak ada costa.
Pada burung:
Costa kuat dan pipih, bicipital, menghubungkan vertebra cervicalis dan sternum.
Pada mammal:
a.    costa pars vertebralis (berupa tulang),
b.    costa pars sternalis (berupa tulang rawan).
Berdasarkan perlekatan denga sternum:
a.    costa verae
b.    costa spuriae
c.    costa fluctuantes

STERNUM
•    Hanya ada pada tetrapoda,
•    berupa tulang tunggal atau serangkaian tulang di medioventral thorax
•    ular dan Lacertilia tidak bertungkai tidak memiliki Sternum

CRANIUM
Terdiri dari 2 bagian fungsional:
a.    Neurocranium (mengelilingi otak dan alat indra tertentu)
b.    Splanchnocranium (terdiri dari rahangdan cartilago branchialis)
Poskan Komentar